Orang Jenius Menyenangi Menyendiri?

Orang jenius menyukai menyendiri? Itu bukan lagi sebuah mitos. Pasalnya, hal tersebut memang dapat dibuktikan dari eksperimen psikis.

Banyak hal yang dapat membikin seseorang berbahagia. Pergi ke mal bersama keluarga atau sahabat? Berbahagia. Berlibur keliling Indonesia atau dunia bersama sahabat atau keluarga? Berbahagia optimal!

Tapi, orang cerdik memiliki definisi kebahagiannya sendiri, dan sahabat bukan sebuah prioritas, sayangnya. Setidaknya, itulah hasil penelitianmya.

1. Orang cerdik tak nyaman dengan pertemanan?

Penelitian yang berjudul Situs Slot Gacor “Country roads, take me home… to my friends: How intelligence, population density, and friendship affect modern happiness” tersebut meneliti 15.197 data responden survei berumur 18 – 38 tahun, dari demografi hingga tingkat IQ.

Data tersebut ialah komponen dari National Longitudinal Study of Adolescent Health, sebuah program yang meneliti relasi kepuasan hidup dengan inteligensi dan kesehatan.

Para peneliti menemukan bahwa kerumunan membikin seseorang tak berbahagia, namun berkumpul dengan kawan-kawan membikin seseorang berbahagia. Uniknya, prinsip kedua rupanya tak berlaku untuk orang yang cenderung memiliki inteligensi tinggi.

Dengan kata lain, orang cerdik tak setuju dengan istilah,

“The more, the merrier.”

“Gak ada loe, gak rame.”

2. Teori kebahagiaan sabana

Ketika memulai penelitian, para peneliti tersebut mengatakan bahwa mereka merujuk pada “Teori kebahagiaan sabana”. Apa itu?

Teori kebahagiaan sabana merujuk pada mengerti bahwa kepuasan hidup seseorang tak cuma didasarkan pada apa yang terjadi di masa kini namun juga oleh bagaimana nenek moyang kita mungkin bereaksi di masa kini.

Para spesialis psikologi evolusioner beranggapan bahwa otak manusia beberapa besar dirancang oleh dan disesuaikan dengan keadaan lingkungan leluhur kita yang mayoritas ialah pemburu.

Dengan kata lain, tubuh dan otak kita sudah berevolusi menjadi pemburu dan pengumpul. Akan namun, evolusi tersebut tak pesat dan belum menyusul kemajuan teknologi dan peradaban manusia.

Para peneliti menjabarkan dua elemen yang membedakan kehidupan modern dan kehidupan zaman purba:

Kepadatan populasi, dan
Frekuensi sosialisasi seseorang dengan kawannya.
Sebagai perbandingan, satu desa zaman Neolitikum dapat ditinggali oleh sekitar 150 orang saja. Itulah yang menyebabkan lingkup pertemanan menjadi luas. Meski, di masa modern, densitas populasi mempersulit sosialisasi dan pertemanan.

Oleh sebab itu, judi online meskipun manusia masa kini tinggal di lingkungan yang padat populasi, frekuensi sosialisasi antar manusia tak bertambah. Itulah pertanda evolusi otak manusia berdasarkan teori kebahagiaan sabana.

Meski peradaban dan evolusi terus maju, otak manusia berevolusi sambil berpegang dengan sistem hidup leluhur pemburu-pengumpul kita. Oleh sebab itu, kebanyakan orang masa kini akan lebih berbahagia dengan hidup dengan berada di sekitar lebih sedikit orang dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan sahabat-sahabat.

3. Orang kota memiliki evolusi “berbeda”

Lalu, mengapa orang jago tak memiliki prinsip yang sama? Kanazawa menekankan bahwa di dikala kebanyakan orang mencari pertemanan, orang jago justru tak mencari hal tersebut.

“Lazimnya, individu yang memiliki IQ tinggi cenderung memiliki preferensi dan skor alamiah yang tak dimiliki nenek moyang kita. Sangat natural bagi spesies seperti manusia untuk mencari dan mengharapkan pertemanan. Akhirnya, individu yang lebih cerdas cenderung mencari lingkup pertemanan lebih kecil.” papar Kanazawa.

Pakar tersebut dikarenakan evolusi pada inteligensi manusia. Dibandingkan psikologi evolusioner percaya bahwa kecerdasan berevolusi sebagai sifat psikis untuk menuntaskan dilema baru.

Seandainya dengan leluhur kita, frekuensi sosialisasi ialah kewajiban yang menolong mereka mempertimbangkan kelangsungan hidup. Lain halnya dengan inteligensi. Uniknya, seorang individu mampu menuntaskan tantangan tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Nah, inilah elemen yang mengurangi pentingnya pertemanan bagi mereka.

Lazimnya kepadatan populasi dan kompleksitas pertemanan dapat menyebabkan depresi bagi beberapa orang, orang jago tak tergoda. Inilah mengapa orang dengan IQ tinggi lebih berminat untuk tinggal di kota.

“Lazimnya, penduduk perkotaan memiliki kecerdasan rata-rata yang lebih tinggi ketimbang penduduk pedesaan. Pakar ini mungkin dikarenakan individu yang lebih cerdas mampu hidup dalam lingkungan ‘tak natural’ dengan kepadatan populasi tinggi tak natural’,” imbuh Kanazawa.

4. Bukan berarti kesepian

Kedua peneliti tersebut menutup penelitian mereka dengan ikhtisar berikut

“Malahan banyak individu dengan IQ tinggi menerima kepuasan hidup yang lebih rendah sebab frekuensi sosialisasi dengan kawan-kawan.”

Jadi, apa yang Kanazawa dan Li coba sampaikan melewati penelitian mereka? Sari orang cerdik cenderung menyukai menyendiri, mereka tak kesepian.

, dengan mengurangi interaksi dengan orang sekitar, kelompok orang Situs Slot88 ber-IQ tinggi mengaplikasikannya sebagai mekanisme untuk mengurangi tekanan sosial lingkungan perkotaan. Dengan menyendiri, mereka yang ber-IQ tinggi dapat menyempatkan waktu lebih banyak untuk melaksanakan apa yang ada di dalam pikiran mereka, menghasilkan banyak karya.

5.

“Jadi, seandainya aku banyak sahabat, aku otomatis ber-IQ rendah? Hiks…”

Oh, tak demikian itu. Kanazawa dan Li pun membuka kemungkinan bahwa ada juga orang ber-IQ tinggi yang memilih untuk tetap menjalin tali silaturahmi. Dikarenakan tinggal di daerah padat populasi, kelompok ber-IQ tinggi pun dapat menyesuaikan diri dan turut bersosialisasi juga.

Sebagai contoh, kedua ikon musik Amadeus Wolfgang Mozart dan Ludwig van Beethoven diketahui memiliki inteligensi musik yang tinggi. Akan namun, Mozart dapat bersosialisasi, berbeda dengan Beethoven yang memilih menyendiri.

Kalaupun kamu tak memiliki IQ seperti Albert Einstein pun, bersosialisasi memiliki manfaat tersendiri. Dengan tujuan yang sama orang cerdas menyendiri, bagi kelompok ber-IQ biasa saja, sosialisasi ialah mekanisme yang mereka pakai untuk meringankan tekanan sosial perkotaan yang padat penduduk sehingga tak depresi.

Mengutip kata Carl Jung,

“Rasa kesepian bukan berasal dari tak memiliki kawan, namun dari ketidakmampuan seseorang dalam mengomunikasikan hal-hal yang tampaknya penting bagi diri sendiri, atau dari memegang pandangan tertentu tak dapat diterima orang lain.”

Jadi, orang jago yang menyendiri bukan berarti kesepian dan orang biasa yang menyukai bersosialiasi belum tentu bodoh. Mereka cuma memiliki sistem sendiri untuk tetap merasa nyaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *